Sunday, August 18, 2013

if i fell

“Hey!”

 “Halo!”

 “Kamu!”

Aku yang sedang mematung di ruang putih kala itu seketika tersentak. Mataku berlarian, kesana kemari. Ya, aku tak sanggup menangkap mata itu.

“Masih ingat aku?”

“Ini aku”

“…….”

Aku tidak ingat siapa dia. Tapi kehadirannya membuatku tak karuan. Jantungku berdegup kencang. Napasku seperti tercekat, membuatku tak bisa mengambil oksigen di udara. Bibirku terkatup. Seketika aku merasa sangat lumpuh. Ya, aku jatuh cinta pada mata itu.

Sedetik berlalu, dia langsung mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Apa kabar?”

“……”

Lagi-lagi tak sepatah kata pun sanggup keluar dari mulutku. Aku hanya bisa menatap matanya, dalam. 

Dia tersenyum. Tanpa diduga dia langsung meraih tanganku, mendekatkan tubuhnya padaku, memelukku erat.

Mataku terpejam. Aku merasa seperti ada di rumah. Hangat dan nyaman. Aku tidak ingin lepas dari pelukan itu.

Dia mengeratkan lagi pelukannya, mengecup lembut keningku.

“Aku di sini, tak akan kemana-mana”

Sekuat tenaga aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu.

“Maaf, aku sepertinya pernah mengenalmu, tapi aku tidak ingat. Kita pernah bertemu dimana ya?”

Dia merenggangkan pelukannya, menatap dalam ke mataku, tersenyum sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya yang hangat di pipiku.

“Di mimpi, dan sekarang aku nyata”.


Monday, July 29, 2013

25.

Welcome to the quarter of the century.

25.

Tanggal 25 Juni 2013 saya genap berusia 25 tahun. Seperempat abad. Oh, I'm getting old!

Banyak yang bilang usia 25 itu adalah usia matang bagi para wanita untuk melepaskan masa lajangnya. 25 itu deadline bagi kebanyakan wanita untuk menikah. Saya pun dulu berangan-angan ingin menikah di usia 25, and yeah, I'm out of target.

Ketika memasuki usia 25, saya baru menyadari, angka itu bukan hanya semata angka yang tepat untuk menikah. Being 25 is about being true to your role as human being. Bagi saya, usia 25 adalah sebuah titik balik menjadi seorang manusia seutuhnya. Di usia seperempat abad, saya sudah mengalami banyak perubahan yang berarti, salah satunya tidak ada lagi figur seorang Papa yang menjaga saya, yang nantinya akan menjadi wali nikah saya. Tidak mudah menjadi seorang anak yatim di usia saya sekarang ini, saya hanya tinggal berdua dengan Mama yang seorang pensiunan swasta. Kakak saya sudah menikah 3 tahun yang lalu. Ada tanggung jawab yang lebih besar lagi, saya harus menjadi tulang punggung keluarga dan juga harus menjaga Mama yang sekarang sendirian, tanpa belahan jiwa di sisinya. *sigh*

Saya bersyukur di usia 25 tahun ini, saya masih dikelilingi orang-orang terkasih; Mama, kakak, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat saya. Tak lupa mereka juga memanjatkan doa-doa yang terbaik untuk saya. I just can't thank them enough..



Last but not least, thank you RF, for always be there by my side :)

Lots of love,
Anye

Sunday, April 7, 2013

notes for papa


April the 7th, 2013.

Masih terekam jelas di ingatan saya, kala itu… beberapa hari setelah merasakan euforia kemenangan, masih dalam suasana yang fitri…

Tak seperti biasanya adik-adik Papa mengunjungi rumah kami sekedar silaturahmi. Papa yang terbaring lemah di tempat tidurnya, tampak memancarkan aura kebahagiaan ketika dikunjungi adik-adiknya, walaupun sebenarnya dia menahan sakit yang sudah dideritanya selama beberapa bulan belakangan. 

Senin, 20 Agustus 2012
Sehari setelah Lebaran, Papa kembali mengeluhkan sakitnya. Papa selalu terjaga dalam tidurnya, nafsu makan berkurang, muntah-muntah, sesak napas, pusing. Akhirnya Mama membawanya lagi berobat ke RS UIN. Selalu ada perasaan was-was setiap saya mendengar Papa pergi ke rumah sakit. Untungnya saat itu tidak sampai menjelang sore, Papa sudah kembali di rumah.

Selasa, 21 Agustus 2012
Hari itu seharusnya saya sudah kembali masuk kantor, tetapi karena saya pikir orang-orang kantor masih pada mudik, jadinya saya putuskan untuk extend liburnya. Keputusan saya ternyata tidak sia-sia, karena saat itu Papa minta diopname karena tubuhnya sudah merasa lemah sekali. Dengan menggunakan mobil kakak ipar saya, kami segera berangkat ke RS UIN.

Begitu sampai, Papa langsung dilarikan ke UGD. Saat itu saya menyaksikan dengan jelas, wajah Papa yang lemah tak berdaya, kakinya dingin menghitam dan membengkak. Papa batuk-batuk terus, di paru-parunya terdapat lendir sehingga dia merasa sulit untuk mengeluarkan riaknya. Penyakit diabetes yang sudah diderita Papa sejak tahun 1995, telah mengakibatkan komplikasi ke ginjal, paru-paru dan jantung.

Sorenya, Papa sudah terlihat lebih baik. Papa masih bisa berbicara, berinteraksi dengan sekelilingnya. Setelah semua yang menjenguk sore itu pulang, tinggalah kami bertiga; Papa, Mama dan saya sendiri. Papa yang tidak mau memakan makanan yang disediakan pihak rumah sakit meminta saya untuk membelikan bakpau. Biasanya di setiap rumah sakit itu selalu ada penjual bakpau, tapi kali itu tidak ada. Saya pikir mungkin masih dalam suasana lebaran, jadinya mereka tidak berjualan. Saya kembali ke kamar inap Papa di lantai 2, lalu Mama menyuruh saya membelikan roti isi daging di Holland Bakery. Dan begitu sampai disana, ternyata roti isi dagingnya sudah habis, hanya ada roti manis.

Sekitar pukul 9-an saya pulang ke rumah. Begitu sampai rumah saya sama sekali tak mengantuk. Saya sendiri di rumah, terjaga, dan agak lapar. Akhirnya saya memutuskan untuk memanggil salah seorang teman baik saya, Dewa, untuk menemani saya keluar mencari makanan. Setelah mencari-cari tempat yang pas untuk ngobrol, kami akhirnya memilih sebuah coffee shop yang berada di bilangan Gandaria. Dengan ditemani secangkir kopi hangat dan french fries, kami saling bertukar cerita sambil tertawa hingga tengah malam sampai saya merasa ngantuk.

Rabu, 22 Agustus 2012
Saya hanya tidur beberapa jam dan sudah terbangun sekitar pukul 7. Pagi. Saya langsung berbenah; membuat sarapan sendiri, mencuci piring, membereskan rumah, mengambil baju Mama untuk dibawa ke rumah sakit. Hari itu saya kembali tidak masuk kantor. Setelah mendapat SMS dari Mama, saya segera berangkat ke rumah sakit. Kondisi Papa mulai menurun. Dia sudah mulai error, susah bicara, serta susah bergerak. Dia tidak mau tiduran, dia hanya mau duduk di ujung tempat tidur.

Sampai di sana saya lihat Papa masih duduk di ujung tempat tidur. Matanya terpejam, badannya terasa kaku. Papa dirangkul oleh Tante Etty (adik Papa) sambil dibacakan shalawat. Saya hanya bisa terdiam, tanpa saya sadari hati dan pikiran saya kalut, keputusasaan mulai hadir membayangi saya. Mama lalu mulai memaksa Papa untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Memang dasar Papa keras kepala, dia tetap tidak mau berbaring. Karena saya dan Mama tidak kuat membopong tubuh Papa, akhirnya saya menyuruh suster dan kakak ipar saya untuk membaringkan Papa di tempat tidur.

Sorenya kondisi Papa semakin menurun. Kesadarannya menghilang. Salah seorang dokter memanggil mama keluar. Begitu masuk kembali ke kamar, pecahlah tangis Mama. Saya pun tak kuasa menahan tangis. Mama bilang bahwa Papa harus dilarikan ke ICU dan harus segera cuci darah, tidak ada pilihan lain. Karena di RS UIN tidak ada fasilitas ICU, maka saya memutuskan mencari sendiri rumah sakit yang ada fasilitas ICU dan hemodialisa (cuci darah). Bersama dengan Om saya, saya pergi menyusuri jalanan Jakarta dengan menggunakan sepeda motor, mencari rumah sakit untuk Papa. Dari mulai RS Fatmawati, RS Pasar Rebo, RS Tebet, RS Pelni Petamburan dll semuanya tidak ada yang memenuhi kualifikasi. Sampai akhirnya pilihan jatuh pada RS JMC (Jakarta Medical Center) di daerah Warung Buncit. 

Kamis, 23 Agustus 2013
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 subuh, saya yang saat itu sudah sangat lelah dan hampir putus asa, masuk ke dalam RS JMC untuk mendaftarkan Papa di ICU. Sebelum Papa masuk, saya dipersilakan bertemu dulu dengan dokter jaga yang akan membaca surat rujukan dari RS UIN. Betapa hancurnya perasaan saya ketika dokter jaga itu bilang bahwa saya tidak usah berharap banyak karena kondisi Papa sudah terlalu parah, kemungkinan untuk sembuh sangat tipis sekali. Sekitar pukul 5 subuh Papa tiba di RS JMC, masuk UGD dulu, setelah itu baru dipindahkan ke ruang ICU. Saya hanya bisa menemui Papa pada jam 11 – 13 siang, dan jam 17 – 19 malam. Di ruangan dingin itu, dengan balutan selang infus serta alat pendeteksi jantung, Papa berjuang melawan sakitnya. Rasa lelah karena saya tidak tidur selama 30 jam hilang sudah ketika jam 11 tiba, karena pada jam itu saya bisa berinteraksi dengan Papa walau hanya sebatas monolog.

Jumat, 24 Agustus 2012
Satu hari sudah Papa berada di ICU, dan keadaannya tidak juga membaik. Tingkat kesadaran Papa sudah berada di angka 5 (kalau koma tingkat kesadarannya 3). Tapi saya terus berusaha positive thinking, saya terus mendoakan yang terbaik buat Papa. Satu per satu kerabat datang mulai dari tetangga, sepupu-sepupu Papa, teman kantor Papa, teman kantor Mama, teman kuliah saya. Mereka semua datang memberi support untuk saya dan keluarga, tak lupa mendoakan yang terbaik untuk Papa saya. Kehadiran mereka tak bisa dipungkiri telah memberikan dampak positif bagi saya. Dan ketika semua yang menjenguk satu per satu pulang, tinggal lah saya, Mama dan Bude saya. Sejak Papa masuk ICU, kami terjaga bersama. Rasanya tidur tidak pernah nyenyak, selalu dihantui perasaan takut dan was-was. Sampai pada suatu subuh…

Sabtu, 25 Agustus 2012
Kali itu saya tidur di bangku, Mama dan Bude saya tidur di lantai yang sudah dilapisi bed cover. Sekitar pukul 3 subuh, saya mendengar Mama dipanggil oleh salah seorang suster ke dalam. Tak lama setelah itu Mama keluar dari balik pintu dengan setengah menangis, memanggil saya untuk masuk ke dalam. Saya langsung ambil pakaian khusus ICU, masuk ke dalam ruangan, seketika saya membeku kala melihat langsung Papa saya sedang dipompa dadanya, dan saya melihat alat pendeteksi jantung sudah bergaris lurus. Sang suster bilang: “Bapak sudah nggak ada ya…”. Saya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya tangis yang bisa menggema di ruangan dingin itu.

Ada sesal yang tak kunjung hilang semenjak Papa pergi, bahkan sampai detik ini. Ada rindu yang terus mengingatkan kenangan-kenangan bersama Papa. Banyak mimpi yang belum bisa saya wujudkan untuk membuat Papa bangga. Masih ada janji yang belum terlaksana bersama. Saya menyadari inilah titik terlemah seorang manusia, ketika ditinggal pergi orang yang sangat kita cintai, untuk selamanya. 

Pah, send me your power from heaven.
Still keep your eyes on me, Pah.
I love you and always love you most :’)

Tuesday, August 7, 2012

serba serbi nonton bioskop di jakarta


Life is like a movie… Write your own ending, keep believing and keep pretending! – The Muppets

Film.
Siapa sih yang nggak suka nonton film? Hampir sebagian besar penduduk Indonesia itu suka nonton film. Entah itu film televisi (yeah FTV), film bioskop, atau bahkan film biru (nah loh). Bahkan nonton film sekarang bukan cuma sekedar hobi atau hiburan, tapi juga jadi bagian dari gaya hidup. Saya sebagai warga pinggiran Jakarta pun nggak bisa memungkiri kalau nonton itu = lifestyle. Apalagi jaman sekarang media untuk nonton film semakin beragam. Mau nonton film yang nggak harus keluar rumah, tinggal beli DVD atau download film di internet. Bisa juga pantengin film di salah satu channel TV swasta atau langganan TV kabel yang ada channel film semacam HBO dan kawan-kawan. Mau nonton film sekalian jalan-jalan keluar rumah atau malem mingguan, tinggal pilih mau nonton di XXI atau Blitz Megaplex. Semuanya tergantung dari pilihan masing-masing.

Disini saya nggak akan nulis tentang kebiasaan orang-orang Indonesia sewaktu menonton film, atau 10 film terbaik menurut versi saya. Sebagai penikmat film dan korban lifestyle (fyuh), saya mau cerita soal pengalaman saya menonton film di 4 tempat yang berbeda…

Theater IMAX – Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah

Sebelum ada IMAX yang menghebohkan Jakarta itu, Keong Emas ini udah ada sejak jaman saya masih bocah. Tempatnya ada di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Nah, beberapa bulan yang lalu, saya bersama teman-teman RTC UI berkunjung kesana dalam rangka jalan-jalan seseruan bareng. Rencana untuk nonton di Keong Emas emang udah masuk di salah satu agenda jalan-jalan saya dkk, secara saya belum pernah juga gitu nonton disana hehehe. Dengan tiket seharga Rp. 30.000,- saya udah bisa nonton film dokumenter ‘Born To Be Wild’ di Keong Emas yang memakai teknologi IMAX juga, wuih!

tiket masuk theater IMAX Keong Emas



 
Nonton di Keong Emas itu nggak ada nomor seat-nya, jadinya ya rebutan lah duduknya. Begitu masuk, saya langsung ambil posisi duduk di tengah dan wow, saya sempat takjub begitu masuk ke dalam studio karena layarnya gede dan luas banget! Karena saya nggak begitu suka film dokumenter, saya cuma menikmati film di awal-awal aja, sewaktu baby orangutan dan baby elephant-nya diekspos. Untuk kualitas gambar dan suara emang nggak terlalu bagus, seat-nya juga nggak enak, tapi lumayan kok untuk sekedar hiburan dan edukasinya :)

sempet-sempetnya pose di Keong Emas

IMAX – XXI Gandaria City

Ini dia yang sempet menghebohkan Jakarta beberapa waktu yang lalu. Jelas bikin heboh karena studio IMAX XXI Gandaria City (GanCit) ini pertama dan satu-satunya di Indonesia. Banyak orang berbondong-bondong ke sana, pada penasaran sama kualitas IMAX yang katanya keren dan canggih itu. Saya pun termasuk orang yang heboh dan penasaran pengen nonton di IMAX. Sejak H-7 pembukaan studio IMAX, saya udah rajin browsing tentang IMAX yang studionya merupakan gabungan dari 2 studio XXI GanCit, dari mulai cari tau harga tiketnya, film-film apa aja yang bakal ditayangin di IMAX dan lain-lain. Dan ketika hari H, saya gagal menonton perdana IMAX karena tiketnya selalu SOLD OUT! Saya selalu keabisan tiket karena rata-rata mereka yang mau nonton IMAX udah pada mesen tiketnya duluan lewat M-Tix, atau mereka udah ngantri dari jam 10 pagi! Biarpun gagal nonton IMAX di hari perdananya, Alhamdulillah saya nggak kelewatan euphoria-nya. Akhirnya, kira-kira H+7 saya berhasil nonton The Avengers 3D juga di IMAX, itu juga dengan bantuan orang dalem! Kalo enggak, mungkin saya baru nonton H+30 kali ya hehehe. Begitu masuk, studionya WOW banget, walaupun layarnya lebih besar di Keong Emas. Dengan tiket masuk seharga Rp. 50.000,- (weekdays), saya bisa menonton film dengan kualitas gambar dan suara yang nggak perlu ditanya lagi… Gambarnya bener-bener wide and crystal clear!  Kursinya nyaman, suaranya juga maksimal, apalagi ini film 3D, jadi lebih kerasa banget 3D-nya dibanding nonton 3D di studio reguler. AMAZING!

pose norak dengan kacamata IMAX


 
Satin Class – Blitz Megaplex Grand Indonesia

Saya selalu suka dengan tagline Blitz Megaplex (BM): Beyond Movies. Dari pertama kali BM muncul, saya suka dengan konsep BM yang nggak mainstream – sebagai kompetitor perusahaan bioskop 21 Cineplex. Walaupun jaringan BM belum sebanyak 21 Cineplex, dan terkadang film yang ditayangin di 21 nggak ada di BM karena urusan birokrasi, BM tetap mampu menyuguhkan alternatif hiburan di akhir pekan. Selain itu, BM juga punya studio khusus yang nggak dimiliki kompetitornya, yaitu Dining Cinema, Velvet dan Satin Class.

Sekitar bulan Maret yang lalu, saya dapet 2 freepass Satin Class di Blitz Grand Indonesia. Karena padatnya kerjaan dan jadwal main, dan juga bingung mau ajak siapa (hmpft), saya baru sempet nonton saat injury time. Eh, bukan injury time lagi, tapi final time begitu masa berlaku freepass ini abis, 30 Juni kemaren. Fyuh. Akhirnya daripada bingung, saya ajak tetangga sekaligus sahabat saya, Evan, untuk nemenin nonton ‘Brave’ sekalian malem mingguan bareng.

penampakan tiket Satin Class

Studio Satin Class ini ada di atas, jadi harus baik eskalator dulu. Begitu masuk, saya sempet kaget karena studionya ternyata satu tempat dengan studio reguler, cuma bedanya Satin Class ada di bagian atas, jadi sejajar sama layar gitu. Saya sebenernya kurang sreg sih dengan kesejajaran itu, apalagi jarak kursi dengan layarnya lumayan jauh, jadinya kualitas gambar dan suaranya nggak maksimal. Malah tadinya saya pikir Satin Class ini punya studio khusus sendiri.  Tapi kekurangan itu terbayar dengan kenyamanan dan fasilitas studionya. Selain kursinya bisa buat selonjorin kaki, ada meja kecil juga di samping kiri dan kanannya buat naro tas atau makanan/minuman. Pelayanannya pun super oke. Kalau kita mau pesen makanan/minuman, tinggal pencet tombol yang ada di meja, petugas langsung datang untuk melayani, kembaliannya pun dianter pula jadi kita hanya cukup duduk manis aja. Mau liat penampakan studio Satin Class? Googling aja kali ya :)


Premiere XXI Gandaria City

Setelah berkali-kali gagal nonton The Dark Knight Rises (TDKR) di IMAX, akhirnya saya dan movie mate saya, Billy, memutuskan untuk nonton TDKR di studio Premiere XXI GanCit. Ada beberapa pertimbangan kenapa saya milih nonton di Premiere XXI. Pertama, saya selalu keabisan tiket IMAX walaupun udah beli online lewat M-Tix! Kedua, saya dan Billy sama-sama belum pernah nonton di Premiere (hehe). Terakhir, TDKR merupakan film 2D, dan durasinya 165 menit. Jadi, kami pikir kenyamanan saat nonton TDKR itu penting banget!

tiketnya aja keliatan mewah banget

Begitu masuk studio Premiere XXI, saya sempet norak gitu karena nggak ngerti cara mengatur sofanya supaya bisa selonjorin kaki, hehe. Sempet celingak-celinguk juga karena semua orang di studio pada selimutan. Nah loh, selimutnya ditaro dimana tuh? Ternyata selimutnya ada di dalam laci meja, hihihi. Harus saya akui, diantara 3 tempat nonton yang udah saya ceritain di atas, studio Premiere XXI GanCit ini yang paling PW! Dengan tiket masuk seharga Rp. 50.000,- (weekdays), saya bisa nonton dengan super nyaman, sofa yang empuk, selimutan pula, that’s what i called lil’ heaven! Walaupun layarnya nggak sebesar layar IMAX, kualitas gambar dan suara juga nggak seperti IMAX, dan di awal-awal film saya sempet terganggu dengan kehadiran petugas yang sibuk bolak-balik untuk melayani pesanan makanan dan minuman, saya bener-bener enjoy nonton di Premiere XXI! Serasa nonton home theater di rumah karena di dalam studionya sendiri cuma tersedia 30 kursi (CMIIW). Lux banget deh pokoknya!

Mau dimana pun nontonnya, balik lagi ke selera dan budget masing-masing. Intinya, nonton film itu jangan dibikin ribet. Just sit back, relax, feel the sensation and enjoy the movie!



Tuesday, July 24, 2012

mencicipi sushi miya8i


Apa yang terlintas di pikiran lo begitu denger kata 'Miyabi' ?

Bokep. Pasti nggak jauh-jauh dari itu kan? Saya pun demikian :D

Miyabi emang cukup fenomenal di sini, apalagi sejak si bintang bokep yang bernama asli Maria Ozawa nan cantik dan seksi asal negeri sakura itu menyambangi Indonesia untuk bermain dalam satu judul film Indonesia. Loh kok jadi ngomongin beginian sih?

Anyway, yang mau saya ceritain kali ini emang tentang miyabi, sama-sama enak (loh?), tapi dari segi yang berbeda, Sushi Miya8i (baca: miyabi). Sebenernya saya udah lama denger tentang Sushi Miya8i ini dari jejaring sosial, tapi baru sempet cobain beberapa waktu yang lalu bersama salah seorang teman dekat saya.

Sushi Miya8i yang saya jajal waktu itu merupakan cabang kesekian, di daerah Jakarta Selatan, tepatnya di seberang Labschool Kebayoran. Begitu duduk, dikasih menu sama waitressnya, saya langsung bingung mau makan yang mana. Dari menu keliatannya enak-enak semua, menggiurkan banget gitu. Setelah bolak balik menu beberapa kali, akhirnya saya dan teman saya memilih 3 menu sushi, dan ocha dingin (biar bisa refilll) hehehe....

Seulawah Roll (29k)
Ini sushi pertama yang saya cobain. Judulnya Seulawah Roll. Menurut sumber yang saya dapet sih karena bentuk penyajiannya mirip sama gunung Seulawah di Aceh. Nama sushinya juga berbau-bau Aceh karena salah satu pemilik Sushi Miya8i-nya orang Aceh, Teuku Wisnu, yang merupakan seorang aktor dan pacarnya Shireen Sungkar (penting!). Garnish-nya cantik, lumayan enak sih perpaduan baked salmon, crunchy flakes dan saus teriyaki-nya. Rasa mayonaisse-nya juga rada pedes-pedes gitu. Tapi saran saya, jangan terlalu banyak makannya, bisa eneg lho.



Ori Baked California Roll (28k)

Sushi kedua judulnya Ori Baked California Roll. Sushi ini sih katanya salah satu favorit yang paling banyak dipesan setelah Seulawah Roll. Kalo nggak salah inget, sushi ini isinya campuran daging kepiting dan mushroom, disiram dengan spicy mayo. Rasanya campur-campur banget; rada pedes, sedikit manis, dan agak asem, mungkin karena mayonaisse-nya terlalu dominan kali ya. Lumayan eneg, karena sebelumnya saya makan sushi yang banjir mayo juga.




Deep Fried Tuna Spicy Roll (25k)
Pesenan sushi yang terakhir judulnya Deep Fried Tuna Spicy Roll. Huaahh akhirnya ketemu juga sushi yang nggak banyak mayo-nya. Di antara 3 jenis sushi yang dipesan, menurut saya ini sushi yang paling enak dan ramah di perut. Seumur hidup makan sushi, baru kali ini saya makan sushi yang digoreng, hehe. Isinya daging tuna spicy, dengan campuran bumbu-bumbu rahasia ala Sushi Miya8i. Worth to try deh pokoknya!


Acara icip-icip Sushi Miya8i kali itu saya tutup dengan yang manis, yaitu Ryoto Ice Cream (16k) atau saya biasa nyebutnya es krim ikan karena emang bentuknya mirip ikan. Rasanya sama kaya es krim ikan yang ada di Sushi Tei; vanilla dengan campuran kacang merah. Overall, Sushi Miya8i lumayan enak kok. Selain karena range harganya yang bersahabat mulai dari Rp 7.000,- sampai Rp 35.000,- , pilihan menunya juga beragam dan bisa jadi alternatif buat penggemar sushi yang bosen dengan varian sushi yang itu-itu aja. Saran saya cuma satu: nggak usah minta ekstra mayones ya :)



i love weddings

Jadi ceritanya saya mau rutin nulis lagi nih di blog, biar lebih produktif gitu.

Ehem.

Memasuki pertengahan tahun naga air ini, banyak banget temen-temen saya yang melepas masa lajangnya. Singkat kata, bulan-bulan ini tuh musim kawin. Buat sebagian orang, pertengahan tahun selalu jadi waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Banyak juga karena alasan kejar waktu sebelum bulan puasa. Intinya, seumuran saya sekarang ini emang lagi banyak-banyaknya yang... nikah. Bahkan setiap saya buka account facebook, hampir selalu ada salah satu dari sekian banyaknya teman saya yang meng-upload foto-foto engagement, pre-wedding, sampai ke wedding day-nya. #ppfffttt

Anyway, undangan pernikahan pertama di pertengahan tahun ini dibuka oleh salah seorang teman baik saya, teman main saya sewaktu kuliah, teman waktu masih jaman-jamannya saya ngeband, Kiki. FYI, yang namanya Kiki ini orangnya sangat-sangat slenge'an (gak ngerti deh bahasa Indonesia yang baik dan benarnya apa). Biarpun kelakuannya begitu, Kiki ini jago banget main drum, lulusan STAN dan begitu lulus dia langsung kerja di AXA Mandiri. Bisa dibilang mulus lah karirnya. Singkat cerita akhirnya si Kiki ini mau nikah sama yang namanya Dinda. Agak lucu nih, jadi ceritanya saya bersama dua orang teman saya, Grimas dan Eja, berencana dateng bareng ke resepsinya di daerah Senayan, hari Sabtu 5 Mei yang lalu. Berangkat dari rumah jam 7 kurang dikit, padahal rumah kami tuh di daerah Pamulang, nyari mati banget nggak sih, kaya jarak Pamulang-Senayan deket aja. Akhirnya saya sampai disana jam 9 lewat, dan ya udah dibongkar-bongkar lah itu pelaminan, hahaha! Gerobak-gerobak makanan juga udah pada dibongkar, pengantinnya nggak tau kemana. Saya bertiga yang tadinya udah dandan setelan kawinan banget, udah cuek aja lepas sepatu, pake sendal, terus masuk ke dalem aulanya, nyari-nyari Kiki, dan akhirnya dia nongol dari ujung masih dengan make-up tebelnya. Hahahaaaa...

gak sempet foto di pelaminan, akhirnya foto di depan karangan bunga

Next wedding, dua orang temen baik saya sewaktu SMA, Meditto dan Iyun. Sempet kaget juga sih waktu tau mereka mau nikah, secara mereka itu dulunya satu lingkungan. Meditto yang terkenal dengan pesona gantengnya, dan Iyun si anak lugu yang berubah jadi anak metropolitan banget. Setau saya, waktu SMA mereka ini jarang banget ngobrol, jarang berinteraksi lah pokoknya. Sampai pada suatu malam pas mereka lagi kumpul bareng teman-teman saya yang lainnya, waktu itu mereka lagi single, dan cinlok lah!

di pelaminan bersama 29 mates :)

I always love weddings! Saya selalu seneng kalo diajak ke acara resepsi pernikahan, apalagi nikahan temen sendiri. Selain jadi ajang kumpul-kumpul sama temen-temen, di nikahan ini saya bisa dandan pol-polan, syukur-syukur kalo di sana ketemu jodoh, hahahaa (amin!). Pernikahan itu kan salah satu bentuk kebahagiaan, happiness is contagious, right? Dan yang bikin seru nih ya, kalo temen yang mau nikah itu ngasih bahan baju yang seragam buat dipake ke resepsinya. Seperti yang dilakukan dua orang temen baik saya sewaktu kuliah, Vicky dan Nina.

Vicky's wedding in purple silk

Nina's wedding in goldy green silk

Rasanya seru banget bisa ke nikahan rame-rame, dengan dandanan cantik dan dress yang senada warnanya. Apalagi yang nikah ini temen semasa kuliah dulu, temen seperjuangan, 4 tahun di tempat yang sama. Soal tempat resepsi, makanan, dateng sama siapa, dan yang lain-lain udah bukan jadi masalah dan nggak ada komentar lagi, because togetherness is über alles :')

Lain ceritanya sewaktu saya dateng ke nikahan salah satu temen baik saya di SMA (again), Febrian namanya. Siapa sih anak 29 yang nggak kenal Febrian? Si pentolan veteran sejati yang pemikirannya cerdas, bisa dibilang out of the box (semoga lo nggak baca tulisan ini, yan :p ). Febrian ini bisa dibilang 'bapak'-nya anak-anak lah ya. Di pertengahan tahun ini dia akhirnya menjatuhkan pilihan ke seorang cewe muslimah yang udah dipacarinya selama kurang lebih setahunan, Listya. Karena cewenya ini asli sunda pisan, maka resepsinya pun digelar di tanah sunda. Yang bikin agak rempong selain karena jauh, acara resepsinya itu berlangsung jam 11 siang, which means harus berangkat pagi buta dari Jakarta. Niat mau nginep rame-rame di Bandung pas H-1 batal, akhirnya saya dkk jam 8 pagi kumpul di rumah Evan dan saat itu juga langsung berangkat, padahal malemnya saya abis nobar penyisihan grup B Euro 2012 sampe jam setengah 5 pagi lho, kebayang kan betapa mata panda-nya saya :O

Febrian's wedding day, yeay!


Rasa lelah dan ngantuk itu terbayar begitu sampe di tempat resepsinya. Everything looks simply beautiful! Febrian yang sehari-harinya terlihat berantakan, hari itu jadi keliatan beda, begitu pun dengan Listya. Semua teman-teman saya yang menikah saat itu punya caranya masing-masing untuk berbagi kebahagiaan dengan cara yang menyenangkan.

Mudah-mudahan nanti saya juga bisa seperti mereka ya :')



 

Blog Template by YummyLolly.com