Showing posts with label heaven on earth. Show all posts
Showing posts with label heaven on earth. Show all posts

Saturday, January 3, 2015

office escape: woodpecker!

Postingan kedua di tahun 2015.

Ehm.

Kali ini saya mau cerita tentang salah satu tempat hipster (katanya) di Jakarta yang belum lama ini saya datengin bareng temen-temen kantor. Ceritanya lagi nggak ada kerjaan gitu di kantor karena lagi banyak yang ambil cuti pasca Natal. Jadilah saya "ngabur" makan siang (ya padahal saya bawa bekel) ke luar. Si Awad, temen saya yang paling ganteng itu, BM pengen ke Woodpecker. Meluncurlah kami berlima kesana setelah sebelumnya nemenin yang pada makan siang dulu di Ikan Bakar Cianjur daerah Antasari.

Si Woodpecker ini ada di Panglima Polim, tepatnya di seberangnya Mangia dan Taco Local, sampingnya HolyGyu (nah loh bingung nggak tuh?). Gini, biar gampangnya, kalau dari arah Blok M, lurus terus ke arah Fatmawati, nanti pas ada perempatan pertama belok kiri, ada 7eleven di sebelah kanan, langsung deh tuh belok kanan lurus terus, nanti nggak jauh dari situ ada di sebelah kiri, cari aja yang dicat putih pokoknya.

Tanpa basa basi, kami berlima langsung cari spot yang enak buat ngobrol sambil ngopi-ngopi lucu. Kebetulan hari itu tempatnya lumayan agak penuh, dan smoking area-nya juga penuh, jadinya kami duduk di meja panjang, non-smoking area. Saya order secangkir Babycinno, temen-temen saya yang lain pada order Iced Cappuccino dan Hot Latte (atau Hot Cappuccino ya? saya lupa persisnya). Untuk dessertnya kami order bareng-bareng; Original Waffle with Strawberry & Nutella, dan Oreo Waffle with Vanilla Ice Cream & Cheese.

Ya ampun wafflenya enak banget. Masih hangat, fresh from the oven banget, renyah dan manisnya pas! Saya rasa tanpa dikasih toppingnya pun udah enak itu wafflenya. Apalagi ditambah Nutella dan potongan Strawberry... Yang Oreo Waffle juga enak! Kirain bakalan manis banget itu rasa wafflenya karena dicampur Oreo (pengalaman bikin oreo truffle yang kemanisan), tapi ternyata beda karena ada campuran coklatnya juga, jadi nggak dominan oreonya, plus Vanilla Ice Cream dan parutan keju. Bisa bayangin nggak enaknya kaya apa?

Babycinno, Strawberry Nutella Waffle, Vanilla Ice Cream & Cheese Waffle    



(Kiri-kanan) Anye, Lidia, Awad, Mba Ade, Lina


Untuk harganya lumayan terjangkau kok, saya berlima cuma kena sekitaran 250k. Harga makanan dan minumannya mulai dari 15-30k. Kalau ditanya pengen balik lagi atau nggak kesana, saya pasti langsung jawab: MAU BANGET! Mau nyobain wafflenya lagi dengan topping yang lain, hehe.

si abang (ga sengaja) ikutan selfie

See you on another post!

XOXO

Tuesday, August 7, 2012

serba serbi nonton bioskop di jakarta


Life is like a movie… Write your own ending, keep believing and keep pretending! – The Muppets

Film.
Siapa sih yang nggak suka nonton film? Hampir sebagian besar penduduk Indonesia itu suka nonton film. Entah itu film televisi (yeah FTV), film bioskop, atau bahkan film biru (nah loh). Bahkan nonton film sekarang bukan cuma sekedar hobi atau hiburan, tapi juga jadi bagian dari gaya hidup. Saya sebagai warga pinggiran Jakarta pun nggak bisa memungkiri kalau nonton itu = lifestyle. Apalagi jaman sekarang media untuk nonton film semakin beragam. Mau nonton film yang nggak harus keluar rumah, tinggal beli DVD atau download film di internet. Bisa juga pantengin film di salah satu channel TV swasta atau langganan TV kabel yang ada channel film semacam HBO dan kawan-kawan. Mau nonton film sekalian jalan-jalan keluar rumah atau malem mingguan, tinggal pilih mau nonton di XXI atau Blitz Megaplex. Semuanya tergantung dari pilihan masing-masing.

Disini saya nggak akan nulis tentang kebiasaan orang-orang Indonesia sewaktu menonton film, atau 10 film terbaik menurut versi saya. Sebagai penikmat film dan korban lifestyle (fyuh), saya mau cerita soal pengalaman saya menonton film di 4 tempat yang berbeda…

Theater IMAX – Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah

Sebelum ada IMAX yang menghebohkan Jakarta itu, Keong Emas ini udah ada sejak jaman saya masih bocah. Tempatnya ada di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Nah, beberapa bulan yang lalu, saya bersama teman-teman RTC UI berkunjung kesana dalam rangka jalan-jalan seseruan bareng. Rencana untuk nonton di Keong Emas emang udah masuk di salah satu agenda jalan-jalan saya dkk, secara saya belum pernah juga gitu nonton disana hehehe. Dengan tiket seharga Rp. 30.000,- saya udah bisa nonton film dokumenter ‘Born To Be Wild’ di Keong Emas yang memakai teknologi IMAX juga, wuih!

tiket masuk theater IMAX Keong Emas



 
Nonton di Keong Emas itu nggak ada nomor seat-nya, jadinya ya rebutan lah duduknya. Begitu masuk, saya langsung ambil posisi duduk di tengah dan wow, saya sempat takjub begitu masuk ke dalam studio karena layarnya gede dan luas banget! Karena saya nggak begitu suka film dokumenter, saya cuma menikmati film di awal-awal aja, sewaktu baby orangutan dan baby elephant-nya diekspos. Untuk kualitas gambar dan suara emang nggak terlalu bagus, seat-nya juga nggak enak, tapi lumayan kok untuk sekedar hiburan dan edukasinya :)

sempet-sempetnya pose di Keong Emas

IMAX – XXI Gandaria City

Ini dia yang sempet menghebohkan Jakarta beberapa waktu yang lalu. Jelas bikin heboh karena studio IMAX XXI Gandaria City (GanCit) ini pertama dan satu-satunya di Indonesia. Banyak orang berbondong-bondong ke sana, pada penasaran sama kualitas IMAX yang katanya keren dan canggih itu. Saya pun termasuk orang yang heboh dan penasaran pengen nonton di IMAX. Sejak H-7 pembukaan studio IMAX, saya udah rajin browsing tentang IMAX yang studionya merupakan gabungan dari 2 studio XXI GanCit, dari mulai cari tau harga tiketnya, film-film apa aja yang bakal ditayangin di IMAX dan lain-lain. Dan ketika hari H, saya gagal menonton perdana IMAX karena tiketnya selalu SOLD OUT! Saya selalu keabisan tiket karena rata-rata mereka yang mau nonton IMAX udah pada mesen tiketnya duluan lewat M-Tix, atau mereka udah ngantri dari jam 10 pagi! Biarpun gagal nonton IMAX di hari perdananya, Alhamdulillah saya nggak kelewatan euphoria-nya. Akhirnya, kira-kira H+7 saya berhasil nonton The Avengers 3D juga di IMAX, itu juga dengan bantuan orang dalem! Kalo enggak, mungkin saya baru nonton H+30 kali ya hehehe. Begitu masuk, studionya WOW banget, walaupun layarnya lebih besar di Keong Emas. Dengan tiket masuk seharga Rp. 50.000,- (weekdays), saya bisa menonton film dengan kualitas gambar dan suara yang nggak perlu ditanya lagi… Gambarnya bener-bener wide and crystal clear!  Kursinya nyaman, suaranya juga maksimal, apalagi ini film 3D, jadi lebih kerasa banget 3D-nya dibanding nonton 3D di studio reguler. AMAZING!

pose norak dengan kacamata IMAX


 
Satin Class – Blitz Megaplex Grand Indonesia

Saya selalu suka dengan tagline Blitz Megaplex (BM): Beyond Movies. Dari pertama kali BM muncul, saya suka dengan konsep BM yang nggak mainstream – sebagai kompetitor perusahaan bioskop 21 Cineplex. Walaupun jaringan BM belum sebanyak 21 Cineplex, dan terkadang film yang ditayangin di 21 nggak ada di BM karena urusan birokrasi, BM tetap mampu menyuguhkan alternatif hiburan di akhir pekan. Selain itu, BM juga punya studio khusus yang nggak dimiliki kompetitornya, yaitu Dining Cinema, Velvet dan Satin Class.

Sekitar bulan Maret yang lalu, saya dapet 2 freepass Satin Class di Blitz Grand Indonesia. Karena padatnya kerjaan dan jadwal main, dan juga bingung mau ajak siapa (hmpft), saya baru sempet nonton saat injury time. Eh, bukan injury time lagi, tapi final time begitu masa berlaku freepass ini abis, 30 Juni kemaren. Fyuh. Akhirnya daripada bingung, saya ajak tetangga sekaligus sahabat saya, Evan, untuk nemenin nonton ‘Brave’ sekalian malem mingguan bareng.

penampakan tiket Satin Class

Studio Satin Class ini ada di atas, jadi harus baik eskalator dulu. Begitu masuk, saya sempet kaget karena studionya ternyata satu tempat dengan studio reguler, cuma bedanya Satin Class ada di bagian atas, jadi sejajar sama layar gitu. Saya sebenernya kurang sreg sih dengan kesejajaran itu, apalagi jarak kursi dengan layarnya lumayan jauh, jadinya kualitas gambar dan suaranya nggak maksimal. Malah tadinya saya pikir Satin Class ini punya studio khusus sendiri.  Tapi kekurangan itu terbayar dengan kenyamanan dan fasilitas studionya. Selain kursinya bisa buat selonjorin kaki, ada meja kecil juga di samping kiri dan kanannya buat naro tas atau makanan/minuman. Pelayanannya pun super oke. Kalau kita mau pesen makanan/minuman, tinggal pencet tombol yang ada di meja, petugas langsung datang untuk melayani, kembaliannya pun dianter pula jadi kita hanya cukup duduk manis aja. Mau liat penampakan studio Satin Class? Googling aja kali ya :)


Premiere XXI Gandaria City

Setelah berkali-kali gagal nonton The Dark Knight Rises (TDKR) di IMAX, akhirnya saya dan movie mate saya, Billy, memutuskan untuk nonton TDKR di studio Premiere XXI GanCit. Ada beberapa pertimbangan kenapa saya milih nonton di Premiere XXI. Pertama, saya selalu keabisan tiket IMAX walaupun udah beli online lewat M-Tix! Kedua, saya dan Billy sama-sama belum pernah nonton di Premiere (hehe). Terakhir, TDKR merupakan film 2D, dan durasinya 165 menit. Jadi, kami pikir kenyamanan saat nonton TDKR itu penting banget!

tiketnya aja keliatan mewah banget

Begitu masuk studio Premiere XXI, saya sempet norak gitu karena nggak ngerti cara mengatur sofanya supaya bisa selonjorin kaki, hehe. Sempet celingak-celinguk juga karena semua orang di studio pada selimutan. Nah loh, selimutnya ditaro dimana tuh? Ternyata selimutnya ada di dalam laci meja, hihihi. Harus saya akui, diantara 3 tempat nonton yang udah saya ceritain di atas, studio Premiere XXI GanCit ini yang paling PW! Dengan tiket masuk seharga Rp. 50.000,- (weekdays), saya bisa nonton dengan super nyaman, sofa yang empuk, selimutan pula, that’s what i called lil’ heaven! Walaupun layarnya nggak sebesar layar IMAX, kualitas gambar dan suara juga nggak seperti IMAX, dan di awal-awal film saya sempet terganggu dengan kehadiran petugas yang sibuk bolak-balik untuk melayani pesanan makanan dan minuman, saya bener-bener enjoy nonton di Premiere XXI! Serasa nonton home theater di rumah karena di dalam studionya sendiri cuma tersedia 30 kursi (CMIIW). Lux banget deh pokoknya!

Mau dimana pun nontonnya, balik lagi ke selera dan budget masing-masing. Intinya, nonton film itu jangan dibikin ribet. Just sit back, relax, feel the sensation and enjoy the movie!



Tuesday, July 24, 2012

mencicipi sushi miya8i


Apa yang terlintas di pikiran lo begitu denger kata 'Miyabi' ?

Bokep. Pasti nggak jauh-jauh dari itu kan? Saya pun demikian :D

Miyabi emang cukup fenomenal di sini, apalagi sejak si bintang bokep yang bernama asli Maria Ozawa nan cantik dan seksi asal negeri sakura itu menyambangi Indonesia untuk bermain dalam satu judul film Indonesia. Loh kok jadi ngomongin beginian sih?

Anyway, yang mau saya ceritain kali ini emang tentang miyabi, sama-sama enak (loh?), tapi dari segi yang berbeda, Sushi Miya8i (baca: miyabi). Sebenernya saya udah lama denger tentang Sushi Miya8i ini dari jejaring sosial, tapi baru sempet cobain beberapa waktu yang lalu bersama salah seorang teman dekat saya.

Sushi Miya8i yang saya jajal waktu itu merupakan cabang kesekian, di daerah Jakarta Selatan, tepatnya di seberang Labschool Kebayoran. Begitu duduk, dikasih menu sama waitressnya, saya langsung bingung mau makan yang mana. Dari menu keliatannya enak-enak semua, menggiurkan banget gitu. Setelah bolak balik menu beberapa kali, akhirnya saya dan teman saya memilih 3 menu sushi, dan ocha dingin (biar bisa refilll) hehehe....

Seulawah Roll (29k)
Ini sushi pertama yang saya cobain. Judulnya Seulawah Roll. Menurut sumber yang saya dapet sih karena bentuk penyajiannya mirip sama gunung Seulawah di Aceh. Nama sushinya juga berbau-bau Aceh karena salah satu pemilik Sushi Miya8i-nya orang Aceh, Teuku Wisnu, yang merupakan seorang aktor dan pacarnya Shireen Sungkar (penting!). Garnish-nya cantik, lumayan enak sih perpaduan baked salmon, crunchy flakes dan saus teriyaki-nya. Rasa mayonaisse-nya juga rada pedes-pedes gitu. Tapi saran saya, jangan terlalu banyak makannya, bisa eneg lho.



Ori Baked California Roll (28k)

Sushi kedua judulnya Ori Baked California Roll. Sushi ini sih katanya salah satu favorit yang paling banyak dipesan setelah Seulawah Roll. Kalo nggak salah inget, sushi ini isinya campuran daging kepiting dan mushroom, disiram dengan spicy mayo. Rasanya campur-campur banget; rada pedes, sedikit manis, dan agak asem, mungkin karena mayonaisse-nya terlalu dominan kali ya. Lumayan eneg, karena sebelumnya saya makan sushi yang banjir mayo juga.




Deep Fried Tuna Spicy Roll (25k)
Pesenan sushi yang terakhir judulnya Deep Fried Tuna Spicy Roll. Huaahh akhirnya ketemu juga sushi yang nggak banyak mayo-nya. Di antara 3 jenis sushi yang dipesan, menurut saya ini sushi yang paling enak dan ramah di perut. Seumur hidup makan sushi, baru kali ini saya makan sushi yang digoreng, hehe. Isinya daging tuna spicy, dengan campuran bumbu-bumbu rahasia ala Sushi Miya8i. Worth to try deh pokoknya!


Acara icip-icip Sushi Miya8i kali itu saya tutup dengan yang manis, yaitu Ryoto Ice Cream (16k) atau saya biasa nyebutnya es krim ikan karena emang bentuknya mirip ikan. Rasanya sama kaya es krim ikan yang ada di Sushi Tei; vanilla dengan campuran kacang merah. Overall, Sushi Miya8i lumayan enak kok. Selain karena range harganya yang bersahabat mulai dari Rp 7.000,- sampai Rp 35.000,- , pilihan menunya juga beragam dan bisa jadi alternatif buat penggemar sushi yang bosen dengan varian sushi yang itu-itu aja. Saran saya cuma satu: nggak usah minta ekstra mayones ya :)



 

Blog Template by YummyLolly.com