Showing posts with label Feelings. Show all posts
Showing posts with label Feelings. Show all posts

Sunday, August 18, 2013

if i fell

“Hey!”

 “Halo!”

 “Kamu!”

Aku yang sedang mematung di ruang putih kala itu seketika tersentak. Mataku berlarian, kesana kemari. Ya, aku tak sanggup menangkap mata itu.

“Masih ingat aku?”

“Ini aku”

“…….”

Aku tidak ingat siapa dia. Tapi kehadirannya membuatku tak karuan. Jantungku berdegup kencang. Napasku seperti tercekat, membuatku tak bisa mengambil oksigen di udara. Bibirku terkatup. Seketika aku merasa sangat lumpuh. Ya, aku jatuh cinta pada mata itu.

Sedetik berlalu, dia langsung mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Apa kabar?”

“……”

Lagi-lagi tak sepatah kata pun sanggup keluar dari mulutku. Aku hanya bisa menatap matanya, dalam. 

Dia tersenyum. Tanpa diduga dia langsung meraih tanganku, mendekatkan tubuhnya padaku, memelukku erat.

Mataku terpejam. Aku merasa seperti ada di rumah. Hangat dan nyaman. Aku tidak ingin lepas dari pelukan itu.

Dia mengeratkan lagi pelukannya, mengecup lembut keningku.

“Aku di sini, tak akan kemana-mana”

Sekuat tenaga aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu.

“Maaf, aku sepertinya pernah mengenalmu, tapi aku tidak ingat. Kita pernah bertemu dimana ya?”

Dia merenggangkan pelukannya, menatap dalam ke mataku, tersenyum sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya yang hangat di pipiku.

“Di mimpi, dan sekarang aku nyata”.


Sunday, April 7, 2013

notes for papa


April the 7th, 2013.

Masih terekam jelas di ingatan saya, kala itu… beberapa hari setelah merasakan euforia kemenangan, masih dalam suasana yang fitri…

Tak seperti biasanya adik-adik Papa mengunjungi rumah kami sekedar silaturahmi. Papa yang terbaring lemah di tempat tidurnya, tampak memancarkan aura kebahagiaan ketika dikunjungi adik-adiknya, walaupun sebenarnya dia menahan sakit yang sudah dideritanya selama beberapa bulan belakangan. 

Senin, 20 Agustus 2012
Sehari setelah Lebaran, Papa kembali mengeluhkan sakitnya. Papa selalu terjaga dalam tidurnya, nafsu makan berkurang, muntah-muntah, sesak napas, pusing. Akhirnya Mama membawanya lagi berobat ke RS UIN. Selalu ada perasaan was-was setiap saya mendengar Papa pergi ke rumah sakit. Untungnya saat itu tidak sampai menjelang sore, Papa sudah kembali di rumah.

Selasa, 21 Agustus 2012
Hari itu seharusnya saya sudah kembali masuk kantor, tetapi karena saya pikir orang-orang kantor masih pada mudik, jadinya saya putuskan untuk extend liburnya. Keputusan saya ternyata tidak sia-sia, karena saat itu Papa minta diopname karena tubuhnya sudah merasa lemah sekali. Dengan menggunakan mobil kakak ipar saya, kami segera berangkat ke RS UIN.

Begitu sampai, Papa langsung dilarikan ke UGD. Saat itu saya menyaksikan dengan jelas, wajah Papa yang lemah tak berdaya, kakinya dingin menghitam dan membengkak. Papa batuk-batuk terus, di paru-parunya terdapat lendir sehingga dia merasa sulit untuk mengeluarkan riaknya. Penyakit diabetes yang sudah diderita Papa sejak tahun 1995, telah mengakibatkan komplikasi ke ginjal, paru-paru dan jantung.

Sorenya, Papa sudah terlihat lebih baik. Papa masih bisa berbicara, berinteraksi dengan sekelilingnya. Setelah semua yang menjenguk sore itu pulang, tinggalah kami bertiga; Papa, Mama dan saya sendiri. Papa yang tidak mau memakan makanan yang disediakan pihak rumah sakit meminta saya untuk membelikan bakpau. Biasanya di setiap rumah sakit itu selalu ada penjual bakpau, tapi kali itu tidak ada. Saya pikir mungkin masih dalam suasana lebaran, jadinya mereka tidak berjualan. Saya kembali ke kamar inap Papa di lantai 2, lalu Mama menyuruh saya membelikan roti isi daging di Holland Bakery. Dan begitu sampai disana, ternyata roti isi dagingnya sudah habis, hanya ada roti manis.

Sekitar pukul 9-an saya pulang ke rumah. Begitu sampai rumah saya sama sekali tak mengantuk. Saya sendiri di rumah, terjaga, dan agak lapar. Akhirnya saya memutuskan untuk memanggil salah seorang teman baik saya, Dewa, untuk menemani saya keluar mencari makanan. Setelah mencari-cari tempat yang pas untuk ngobrol, kami akhirnya memilih sebuah coffee shop yang berada di bilangan Gandaria. Dengan ditemani secangkir kopi hangat dan french fries, kami saling bertukar cerita sambil tertawa hingga tengah malam sampai saya merasa ngantuk.

Rabu, 22 Agustus 2012
Saya hanya tidur beberapa jam dan sudah terbangun sekitar pukul 7. Pagi. Saya langsung berbenah; membuat sarapan sendiri, mencuci piring, membereskan rumah, mengambil baju Mama untuk dibawa ke rumah sakit. Hari itu saya kembali tidak masuk kantor. Setelah mendapat SMS dari Mama, saya segera berangkat ke rumah sakit. Kondisi Papa mulai menurun. Dia sudah mulai error, susah bicara, serta susah bergerak. Dia tidak mau tiduran, dia hanya mau duduk di ujung tempat tidur.

Sampai di sana saya lihat Papa masih duduk di ujung tempat tidur. Matanya terpejam, badannya terasa kaku. Papa dirangkul oleh Tante Etty (adik Papa) sambil dibacakan shalawat. Saya hanya bisa terdiam, tanpa saya sadari hati dan pikiran saya kalut, keputusasaan mulai hadir membayangi saya. Mama lalu mulai memaksa Papa untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Memang dasar Papa keras kepala, dia tetap tidak mau berbaring. Karena saya dan Mama tidak kuat membopong tubuh Papa, akhirnya saya menyuruh suster dan kakak ipar saya untuk membaringkan Papa di tempat tidur.

Sorenya kondisi Papa semakin menurun. Kesadarannya menghilang. Salah seorang dokter memanggil mama keluar. Begitu masuk kembali ke kamar, pecahlah tangis Mama. Saya pun tak kuasa menahan tangis. Mama bilang bahwa Papa harus dilarikan ke ICU dan harus segera cuci darah, tidak ada pilihan lain. Karena di RS UIN tidak ada fasilitas ICU, maka saya memutuskan mencari sendiri rumah sakit yang ada fasilitas ICU dan hemodialisa (cuci darah). Bersama dengan Om saya, saya pergi menyusuri jalanan Jakarta dengan menggunakan sepeda motor, mencari rumah sakit untuk Papa. Dari mulai RS Fatmawati, RS Pasar Rebo, RS Tebet, RS Pelni Petamburan dll semuanya tidak ada yang memenuhi kualifikasi. Sampai akhirnya pilihan jatuh pada RS JMC (Jakarta Medical Center) di daerah Warung Buncit. 

Kamis, 23 Agustus 2013
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 subuh, saya yang saat itu sudah sangat lelah dan hampir putus asa, masuk ke dalam RS JMC untuk mendaftarkan Papa di ICU. Sebelum Papa masuk, saya dipersilakan bertemu dulu dengan dokter jaga yang akan membaca surat rujukan dari RS UIN. Betapa hancurnya perasaan saya ketika dokter jaga itu bilang bahwa saya tidak usah berharap banyak karena kondisi Papa sudah terlalu parah, kemungkinan untuk sembuh sangat tipis sekali. Sekitar pukul 5 subuh Papa tiba di RS JMC, masuk UGD dulu, setelah itu baru dipindahkan ke ruang ICU. Saya hanya bisa menemui Papa pada jam 11 – 13 siang, dan jam 17 – 19 malam. Di ruangan dingin itu, dengan balutan selang infus serta alat pendeteksi jantung, Papa berjuang melawan sakitnya. Rasa lelah karena saya tidak tidur selama 30 jam hilang sudah ketika jam 11 tiba, karena pada jam itu saya bisa berinteraksi dengan Papa walau hanya sebatas monolog.

Jumat, 24 Agustus 2012
Satu hari sudah Papa berada di ICU, dan keadaannya tidak juga membaik. Tingkat kesadaran Papa sudah berada di angka 5 (kalau koma tingkat kesadarannya 3). Tapi saya terus berusaha positive thinking, saya terus mendoakan yang terbaik buat Papa. Satu per satu kerabat datang mulai dari tetangga, sepupu-sepupu Papa, teman kantor Papa, teman kantor Mama, teman kuliah saya. Mereka semua datang memberi support untuk saya dan keluarga, tak lupa mendoakan yang terbaik untuk Papa saya. Kehadiran mereka tak bisa dipungkiri telah memberikan dampak positif bagi saya. Dan ketika semua yang menjenguk satu per satu pulang, tinggal lah saya, Mama dan Bude saya. Sejak Papa masuk ICU, kami terjaga bersama. Rasanya tidur tidak pernah nyenyak, selalu dihantui perasaan takut dan was-was. Sampai pada suatu subuh…

Sabtu, 25 Agustus 2012
Kali itu saya tidur di bangku, Mama dan Bude saya tidur di lantai yang sudah dilapisi bed cover. Sekitar pukul 3 subuh, saya mendengar Mama dipanggil oleh salah seorang suster ke dalam. Tak lama setelah itu Mama keluar dari balik pintu dengan setengah menangis, memanggil saya untuk masuk ke dalam. Saya langsung ambil pakaian khusus ICU, masuk ke dalam ruangan, seketika saya membeku kala melihat langsung Papa saya sedang dipompa dadanya, dan saya melihat alat pendeteksi jantung sudah bergaris lurus. Sang suster bilang: “Bapak sudah nggak ada ya…”. Saya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya tangis yang bisa menggema di ruangan dingin itu.

Ada sesal yang tak kunjung hilang semenjak Papa pergi, bahkan sampai detik ini. Ada rindu yang terus mengingatkan kenangan-kenangan bersama Papa. Banyak mimpi yang belum bisa saya wujudkan untuk membuat Papa bangga. Masih ada janji yang belum terlaksana bersama. Saya menyadari inilah titik terlemah seorang manusia, ketika ditinggal pergi orang yang sangat kita cintai, untuk selamanya. 

Pah, send me your power from heaven.
Still keep your eyes on me, Pah.
I love you and always love you most :’)

Tuesday, July 24, 2012

i love weddings

Jadi ceritanya saya mau rutin nulis lagi nih di blog, biar lebih produktif gitu.

Ehem.

Memasuki pertengahan tahun naga air ini, banyak banget temen-temen saya yang melepas masa lajangnya. Singkat kata, bulan-bulan ini tuh musim kawin. Buat sebagian orang, pertengahan tahun selalu jadi waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Banyak juga karena alasan kejar waktu sebelum bulan puasa. Intinya, seumuran saya sekarang ini emang lagi banyak-banyaknya yang... nikah. Bahkan setiap saya buka account facebook, hampir selalu ada salah satu dari sekian banyaknya teman saya yang meng-upload foto-foto engagement, pre-wedding, sampai ke wedding day-nya. #ppfffttt

Anyway, undangan pernikahan pertama di pertengahan tahun ini dibuka oleh salah seorang teman baik saya, teman main saya sewaktu kuliah, teman waktu masih jaman-jamannya saya ngeband, Kiki. FYI, yang namanya Kiki ini orangnya sangat-sangat slenge'an (gak ngerti deh bahasa Indonesia yang baik dan benarnya apa). Biarpun kelakuannya begitu, Kiki ini jago banget main drum, lulusan STAN dan begitu lulus dia langsung kerja di AXA Mandiri. Bisa dibilang mulus lah karirnya. Singkat cerita akhirnya si Kiki ini mau nikah sama yang namanya Dinda. Agak lucu nih, jadi ceritanya saya bersama dua orang teman saya, Grimas dan Eja, berencana dateng bareng ke resepsinya di daerah Senayan, hari Sabtu 5 Mei yang lalu. Berangkat dari rumah jam 7 kurang dikit, padahal rumah kami tuh di daerah Pamulang, nyari mati banget nggak sih, kaya jarak Pamulang-Senayan deket aja. Akhirnya saya sampai disana jam 9 lewat, dan ya udah dibongkar-bongkar lah itu pelaminan, hahaha! Gerobak-gerobak makanan juga udah pada dibongkar, pengantinnya nggak tau kemana. Saya bertiga yang tadinya udah dandan setelan kawinan banget, udah cuek aja lepas sepatu, pake sendal, terus masuk ke dalem aulanya, nyari-nyari Kiki, dan akhirnya dia nongol dari ujung masih dengan make-up tebelnya. Hahahaaaa...

gak sempet foto di pelaminan, akhirnya foto di depan karangan bunga

Next wedding, dua orang temen baik saya sewaktu SMA, Meditto dan Iyun. Sempet kaget juga sih waktu tau mereka mau nikah, secara mereka itu dulunya satu lingkungan. Meditto yang terkenal dengan pesona gantengnya, dan Iyun si anak lugu yang berubah jadi anak metropolitan banget. Setau saya, waktu SMA mereka ini jarang banget ngobrol, jarang berinteraksi lah pokoknya. Sampai pada suatu malam pas mereka lagi kumpul bareng teman-teman saya yang lainnya, waktu itu mereka lagi single, dan cinlok lah!

di pelaminan bersama 29 mates :)

I always love weddings! Saya selalu seneng kalo diajak ke acara resepsi pernikahan, apalagi nikahan temen sendiri. Selain jadi ajang kumpul-kumpul sama temen-temen, di nikahan ini saya bisa dandan pol-polan, syukur-syukur kalo di sana ketemu jodoh, hahahaa (amin!). Pernikahan itu kan salah satu bentuk kebahagiaan, happiness is contagious, right? Dan yang bikin seru nih ya, kalo temen yang mau nikah itu ngasih bahan baju yang seragam buat dipake ke resepsinya. Seperti yang dilakukan dua orang temen baik saya sewaktu kuliah, Vicky dan Nina.

Vicky's wedding in purple silk

Nina's wedding in goldy green silk

Rasanya seru banget bisa ke nikahan rame-rame, dengan dandanan cantik dan dress yang senada warnanya. Apalagi yang nikah ini temen semasa kuliah dulu, temen seperjuangan, 4 tahun di tempat yang sama. Soal tempat resepsi, makanan, dateng sama siapa, dan yang lain-lain udah bukan jadi masalah dan nggak ada komentar lagi, because togetherness is über alles :')

Lain ceritanya sewaktu saya dateng ke nikahan salah satu temen baik saya di SMA (again), Febrian namanya. Siapa sih anak 29 yang nggak kenal Febrian? Si pentolan veteran sejati yang pemikirannya cerdas, bisa dibilang out of the box (semoga lo nggak baca tulisan ini, yan :p ). Febrian ini bisa dibilang 'bapak'-nya anak-anak lah ya. Di pertengahan tahun ini dia akhirnya menjatuhkan pilihan ke seorang cewe muslimah yang udah dipacarinya selama kurang lebih setahunan, Listya. Karena cewenya ini asli sunda pisan, maka resepsinya pun digelar di tanah sunda. Yang bikin agak rempong selain karena jauh, acara resepsinya itu berlangsung jam 11 siang, which means harus berangkat pagi buta dari Jakarta. Niat mau nginep rame-rame di Bandung pas H-1 batal, akhirnya saya dkk jam 8 pagi kumpul di rumah Evan dan saat itu juga langsung berangkat, padahal malemnya saya abis nobar penyisihan grup B Euro 2012 sampe jam setengah 5 pagi lho, kebayang kan betapa mata panda-nya saya :O

Febrian's wedding day, yeay!


Rasa lelah dan ngantuk itu terbayar begitu sampe di tempat resepsinya. Everything looks simply beautiful! Febrian yang sehari-harinya terlihat berantakan, hari itu jadi keliatan beda, begitu pun dengan Listya. Semua teman-teman saya yang menikah saat itu punya caranya masing-masing untuk berbagi kebahagiaan dengan cara yang menyenangkan.

Mudah-mudahan nanti saya juga bisa seperti mereka ya :')



Friday, July 6, 2012

24.

25 Juni 2012.

Umur saya sekarang 24!

24. Dua puluh empat. Twenty four. Vierentwintig. Sekali lagi saya ulangi, 24!

Nggak kerasa, tibalah saya di umur yang kebanyakan orang bilang sih 'umur menjelang deadline'.
Umur menjelang deadline untuk... *sigh* menikah. Sedari dulu pun saya udah punya cita-cita untuk menikah di umur 25, atau paling mentok 26. Tapi ya udah lah, namanya juga bercita-cita, boleh kan? :D

Ada yang terasa beda di ulang tahun saya kali ini. Kalo dulu ada someone special yang selalu kasih kejutan manis di hari ulang tahun saya, sekarang nggak ada. Lho, kok jadi curhat ya? *inget nye ini bukan tumblr*

Biarpun keadaannya demikian, saya tetap bersyukur. Alhamdulillah ya Allah banget. Di ulang tahun saya kemarin, orang tua saya nggak lupa ngucapin, teman-teman saya juga :') Mereka nggak henti-hentinya doain yang terbaik buat saya :')

 amin amin amiiiinnn O:)

Semoga di umur saya yang menjelang 'deadline' ini saya bisa makin dewasa, makin dekat dengan-Nya, makin dekat dengan orang tua dan juga keluarga saya, makin profesional menjalani hidup, dan yang paling penting... semoga apa yang saya cita-citakan terkabul, amin ya robbal alamiin O:)


" Karena hidup itu adalah profesionalitas. Profesional dalam menjalani peran lo sebagai makhluk Tuhan, profesional sebagai seorang anak dari orang tua lo, profesional sebagai seorang pekerja media, dan profesional sebagai seorang sahabat bagi temen-temen lo " (VD, 2011)








 


Friday, October 14, 2011

life begins at the end of your comfort zone?


Dearo diaryo,

After reading some friend's blog, i found this quote, then i googled it, and now i feel like i'm in the middle of confusion~


is that right?


Sunday, August 21, 2011

musik sepi

Jiwaku yang ungu merajut. Kepingan berlagu yang pupus. Kan terhempas hujan tak sanggup.

Kuterdiam ingin merasakan. Hati ini tahu, hati ini tahu.

Kumeraba sekitarku yang hampa. Hati ini tahu, hati ini tahu, hati ini tahu.

Sepinya musikku, sepinya duniaku. Tak ada bunyi, serasa hening. (Jemima - Musik Sepi)


Saturday, January 22, 2011

Sebuah BM di Siang Hari

Tadi siang, saya dapet BM (broadcast message) dari orang yang kebetulan sering kirim BM. Biasanya sih isi BMnya nggak terlalu penting dan langsung saya hapus. Tapi kali ini isi BMnya bikin saya tersenyum, bahkan sampe dibaca dua kali loh! Bukan, isinya bukan tentang ramalan bintang atau tentang cinta-cintaan, tapi lebih ke makna hidup...

Berikut kutipan BMnya:

"Manusia seperti sebuah buku.
Cover depan adalah tanggal kelahiran.
Cover belakang adalah tanggal kematian.
Tiap lembarnya adalah tiap-tiap hari dalam hidup kita dan apa yang kita lakukan.
Ada buku yang tebal, ada buku yang tipis.
Ada buku yang menarik dibaca, ada yang tidak sama sekali dibaca.
Sekali menulis, tidak akan pernah berhenti sampai selesai.
Yang hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru dan tiada cacat.
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Allah selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan yang baru untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya, memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita yang sudah ditetapkanNYA untuk kita masing-masing.
Terima kasih Ya Allah untuk hari yang baru ini.
Nikmatilah dan isilah halaman buku kehidupanmu dengan hal-hal yang benar.
Dan jangan lupa, untuk selalu bertanya kepada Allah tentang apa yang harus ditulis tiap-tiap harinya.
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupanmu selesai, engkau didapati sebagai pribadi yang berkenan di hadapanNYA.
Dan buku kehidupanmu layak untuk dijadikan teladan bagi generasi setelahnya.
Selamat menulis di buku kehidupanmu...
"

Oh my, begitu selesai membacanya saya langsung menghela nafas, langsung inget kejadian-kejadian buruk yang udah saya lewati beberapa waktu lalu. Sebenernya BM ini retorikal. Semua orang juga udah tau kan apa yang harus mereka lakuin selanjutnya untuk kebaikan masing-masing? Pada intinya, lagi-lagi saya harus mengurangi keluhan dan memperbanyak syukuran (loh?). Maksudnya, saya harus lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

Thanks Almighty
:)

Saturday, August 28, 2010

f i n a l l y . . .

Rasanya baru kemarin saya menyanyikan lagu 'Gaudeamus Igitur' buat para wisudawan UI.
Dan pada tanggal 26 Agustus 2010, tiba giliran saya untuk dinyanyikan oleh para MaBa.. rasanya campur aduk.. antara seneng, sedih, merinding, mau nangis......
Akhirnya empat tahun perkuliahan bisa saya lewati, alhamdulillah...
Now i'm officially S. Hum!!!!

Terima kasih tak terhingga saya ucapkan untuk:
1. Allah SWT, atas segala rahmatNya yang telah mengizinkan saya untuk bisa berdiri sampai detik ini.
2. Ismiarto Katidjo, Rini Anggraini, Nurina Sagita... my beloved family! Terima kasih atas kasih sayangnya, kesabarannya menghadapi saya yang termasuk susah diatur. Terima kasih juga sudah membiayai pendidikan saya hingga jenjang S1.. sekarang giliran saya yang harus membalas budi!
3. Teman-teman seperjuangan di Sastra Belanda. Hartelijk bedankt, beste vrienden.. goed, we zijn goed, Nederland nul zes goed!!!!!
4. Dosen-dosen FIB yang telah memberi banyak bantuannya selama ini. Special thanks to Mbak Ririet and Mas Iben.
5. Teman-teman FIB dari segala jurusan yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu karena terlalu banyak.. terima kasih telah menjadi teman terbaik saya selama empat tahun ini.
6. Teman-teman RTC UI. Thanks for being such a great friends to share laughs!
7. Salon Ribta 400, yang sudah menjadikan saya tampil cantik pada moment bersejarah ini.
8. Tante Herry, yang sudah menjahit kebaya saya dengan waktu yang super singkat!
9. Bang Dani, yang sudah rela meluangkan waktunya untuk mengantarkan saya dan keluarga ke UI.

Last but not least,
11. Siti Hadiati, my one and only grandma... hartelijk bedankt eyang! Seandainya aja eyang masih di sini, pasti eyang bangga banget ngeliat aku pake toga... pasti eyang bangga banget aku sekarang udah jadi sarjana Sastra Belanda.. this one is special dedicated for you, eyang! Rest peace in heaven, i miss you :)


Saturday, May 15, 2010

Musim Semi yang Lesi

di antara semi yang masih suka sembunyi-sembunyi
aku pun ditinggalkan mereka yang suka menari
meliuk di sela dan sisi rerantingan pasi nan sunyi
maka yang kutemui tinggallah Mei yang lesi...
(Ibnu Wahyudi)


dan kini aku berharap bisa meraihnya, walau hanya dalam imajinasi...

Friday, March 26, 2010

counting on the days

4 days left...



311 live in concert!
finally, you guys really come to Jakarta!
i just can't hardly wait to see it, and feel the amber of yours!

here's my (wish) list songs:
-hey you
-come original
-you wouldn't believe
-love song
-it's alright
-i'll be here a while
-amber
-don't tread on me
-my heart sings
-two drops in the ocean
-all mixed up
-daisy cutter
-thank your lucky stars
-waiting
-whiskey and wine
-jackpot
-too much too fast
-never ending summer
-transistor
-beautiful disaster
-getting through to her
-speak easy
-flowing

can't wait can't wait can't wait!

Tuesday, March 23, 2010

sweet ballad

hey,

i'm not your late night booty call
don't call me passed 11pm, it won't happen again
happened once, it happened twice it happened three times, maybe four times, maybe five times, maybe, maybe it happened six times but it won't happen seven times
no no no no no no...

Friday, February 26, 2010

story of my n-n-n-name

"Perkenalkan nama saya Vania Damayanti, tapi saya biasa dipanggil Anye..."


Begitulah kira-kira sepatah dua patah saya ketika memperkenalkan diri di depan khalayak. Mungkin bagi sebagian orang yang mendengar nama saya dan nama panggilan saya agak sedikit bingung.

"Namanya Vania Damayanti, tapi dipanggil Anye. Anye apa Anya nih?"
"Anye, pake E bukan A."
"Oh, kok jauh ya sama nama aslinya?"
"..."


Kira-kira sudah ada 12345 orang yang mengatakan demikian. Dengan pertanyaan yang sama. Saya pun hanya bisa tersenyum kuda.

Memang sedari kecil, saya biasa dipanggil Anye. Bahkan tidak ada satu orang pun dari keluarga besar saya yang memanggil Vania, padahal nama di akte Vania Damayanti. Tidak banyak pula keluarga saya yang tahu kalau nama panjang saya adalah Vania Damayanti.

Dan rasa-rasanya saya sudah menceritakan ke 12345 orang tentang sejarah nama Anye ini. Ehm. Jadi begini. Konon nama Anye itu diambil dari nama sebuah bunga, yaitu Anyelir, yang menjadi nama ruangan tempat ibu saya bersalin sewaktu melahirkan saya.
Almarhumah eyang saya yang mengusulkan pemberian nama tersebut.

Sejak TK hingga pertengahan SMP, saya selalu dipanggil Vania. Selama itu pula saya terkadang merasa malu dengan nama panggilan saya, Anye, yang terdengar aneh dan jelek. What a bad name i think. Tapi entah mengapa, sejak kelas 2 SMP akhir, saya merasa lebih nyaman dipanggil Anye dibanding Vania. Saya pikir, nama Anye lebih terdengar akrab dan asyik.

Proses pergantian nama panggilan dari Vania menjadi Anye tidaklah mudah. Mau tidak mau saya musti membiasakan diri untuk bilang ke teman-teman saya: "Eh, jangan panggil gue Vania, panggil gue Anye aja...". Swt -___-"

Intinya:
Susahnya punya nama panggilan yang berbeda jauh dengan nama asli...

Sunday, February 21, 2010

ready or lonely?

dear,

i just remembering a quote that makes me think:

"fall in love when you're ready, not when you're lonely"

see. i think me and him both have the same feeling: l o n e l y.

let the time answer it.

Saturday, February 20, 2010

s m i l e : )

Smile though your heart is aching
Smile even though it’s breaking
When there are clouds in the sky you’ll get by
If you smile through your pain and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You’ll see the sun come shining through, for you
Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
That’s the time you must keep on trying
Smile what’s the use of crying
You’ll find that life is still worthwhile, if you just smile...

(Glee Cast feat. Lea Michele, Cory Monteth, and Amber Riley - Smile)

So let's just stop complaining, just smile! :) :) :)

Tuesday, February 16, 2010

think about it:

Wednesday, January 27, 2010

that is why i love her much






but now you're gone ...





i am gonna missing you badly, eyang ... T____T
may your soul rest in peace, amin.
 

Blog Template by YummyLolly.com